Menaker Menilai Besaran Bunga Pinjaman Uang Muka Perumahan Pekerja Masih Wajar

menaker-menilai-besaran-bunga-pinjaman-uang-muka-perumahanMenteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri menilai besaran bunga pinjaman untuk uang muka perumahan bagi pekerja sebesar 6% yang ditetapkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan masih dalam batas wajar dan cukup ideal. Besaran bunga pinjaman ini masih lebih rendah ketimbang bunga bank konvensional.

“Itu masih oke. Kalau dibandingkan dengan bunga bank kan masih lebih rendah. Bunga di bank rata-rata sudah lebih dari 7%, “kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri seusai melakukan rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI di Senayan Jakarta pada Rabu (3/6).

Menaker Hanif mengatakan pemerintah terus mengupayakan berbagai cara untuk mempermudah kepemilikan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah, termasuk dengan meluncurkan Program Pembangunan Sejuta Rumah dan Rusunawa Buruh.

“Kita terus mengupayakan berbagai kebijakan untuk memudahkan kepemilikan rumah. Bahkan saat ini bunga perumahan sudah turun dari 10% ke 4%. Kemudian masa kredit juga diperpanjang dari 15 tahun menjadi 20 tahun,“ kata Hanif.

Selain itu, kata Hanif BPJS Ketenagakerjaan juga menyediakan pinjaman uang muka yang besarnya bisa mencapai 50 juta, tergantung nominal upah pekerja. Bila upahnya 5 juta bisa pinjam sampai 20 juta dan dapat meningkat seterusnya.

Terkait adanya permintaan besaran bunga pinjaman yang lebih kecil karena dananya berasal dari iuran kepesertaan BPJS, Hanif menerangkan bahwa dalam progam BPJS itu berpegang pada prinsip gotong-royong dalam arti yang mampu memberikan subisidi bagi anggota lain yang kurang mampu.

“ Jadi pola pikirnya dalam iuran BPJS itu kan gotong royong, Cara ngitungnya jangan begitu. Kan iurnya harus dihitung berapa lama dan berapa besarnya, Ini sifatnya gotong royong, bukan seperti orang menambung tapi peserta mampu memberikan subisidi bagi anggota lain yang kurang mampu,” kata Hanif.

Hanif mengatakan kemudahan kepemilikan rumah, termasuk program pembangunan sejuta rumah ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan diharapkan dapat segera dinikmati oleh Nelayan, PNS, Buruh, dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) lain pada umumnya.

“Pembangunan sejuta rumah ini dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk mempermudah pemenuhan kebutuhan rumah layak bagi masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menekan biaya pengeluaran,“ kata Hanif.

Seperti diketahui, BPJS Ketenagakerjaan telah menetapkan besaran bunga pinjaman untuk uang muka perumahan bagi pekerja sebesar 6%. Bunga sebesar 6% tersebut diperuntukkan pihak perbankan selaku pengelola dana, dengan rincian 4% adalah hak bunga perbankan dan 2% untuk biaya administrasi pengelolaan dana. Adapun besaran uang yang bisa dipinjam oleh peserta maksimal senilai Rp50 juta.

Fasilitas pinjaman uang muka perumahan untuk pekerja akan diberikan apabila pekerja yang bersangkutan telah menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan minimal satu tahun dan bergaji di bawah Rp5 juta.

Adapun dana yang disediakan oleh BPJS Ketenagakerjaan untuk fasilitas tersebut sekitar Rp100 miliar. Untuk pembayaran, pekerja bisa langsung membayar ke pihak perbankan selaku pengelola dana. Pusat Humas Kemnaker. (source naker.go.id)