BNP2TKI Fasilitasi Proses Klaim Asuransi Kematian TKI Korban Penganiayan

 BNP2TKI Fasilitasi Proses Klaim Asuransi Kematian TKI Korban PenganiayanBNP2TKI, Jakarta, Kamis (21/06) – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) memfasilitasi proses klaim asuransi kematian Aminah binti Uyum Madtasik (41 tahun). Pasalnya, tenaga kerja Indonesia (TKI) — asal Kp Cipit Rt 02/Rw 06 Desa Sukarama, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang diduga meninggal dunia pada 11 Mei 2012 di Arab Saudi akibat tindakan penganiayaan — ini belum menerima gaji dari majikannya selama bekerja.

“Kami mengadukan permasalahan kematian ibunda, Aminah binti Uyum Madtasik, ini ke BNP2TKI. agar bisa dibantu untuk memroses klaim asuransi kematian dan hak-haknya yang belum dibayarkan oleh majikan selama bekerja di Arab Saudi,” tutur Neni Kurnia binti Oping, anak kandung almarhumah, kepada Direktur Advokasi dan Mediasi BNP2TKI, Teguh Hendro Cahyono, di Jakarta pada Kamis siang (21/06).

Neni Kurnia mengadukan permasalahan ibunya ke BNP2TKI dengan didampingi Jejen dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Cianjur. Dikatakannya, ibunya bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) pada keluarga Ibrahim Abdullah Al Dziyab di Al Jauf, Arab Saudi. Ia berangkat secara resmi melalui perusahaan pelaksana penempatan TKI swasta (PPTKIS) PT Amira Prima, Jakarta, pada 09 Juni 2011 lalu. Dikatakannya, dugaan penyebab kematian ibunda Aminah binti Uyum Madtasik pada 11 Mei 2012 lalu adalah, lantaran dianiaya anak majikan. Kabarnya, kini kasusnya sudah ditangani pihak berwenang di Al Jauf, Arab Saudi.

Neni Kurnia menambahkan, ibunya meninggal dunia diperkirakan akibat adanya tindakan penganiayaan sebagaimana disebutkan dalam surat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) tertanggal 22 Mei 2012 yang telah diterimanya. “Kami datang ke BNP2TKI agar bisa dibantu memroses klaim asuransi kematian ibunda,” tuturnya. Di samping itu, lanjutnya, juga minta dibantu supaya bisa diusut tuntas penyebab kematiannya, berikut meminta bantuan agar gaji yang belum dibayar majikan selama bekerja dapat dicairkan, dan klaim asuransi kematiannya bisa dibantu untuk diproses pencairannya.

Menanggapi pengaduan Neni Kurnia ini, Teguh Hendro Cahyona mengatakan, pihaknya akan segera melakukan pemanggilan kepada pimpinan PT Amira Prima dan perusahaan Konsorsium Asuransi Proteksi TKI. “Kami segera memanggil pimpinan PT Amira Prima, agar bisa membantu untuk memroses hak-hak almarhumah, seperti gaji yang belum dibayar selama bekerja 11 bulan, klaim asuransi kematiannya, dan pemulangan jenazahnya ke Indonesia sebagaimana diminta pihak keluarganya,” kata Teguh.***(Imam Bukhori)